Ringkasan tema 1
pembelajaran 2 kelas 4
Perbedaan dan
persamaan rumah adat
Bentuk rumah adat di
Indonesia bermacam-macam, tergantung dari perbedaan budaya dan perbedaan
fungsi. Misalnya, rumah adat di daerah pantai cenderung lebih tinggi
dibandingkan dengan daerah pegunungan untuk melindungi dari terjangan ombak.
Rumah adat di daerah yang lebih dingin akan lebih tertutup dibandingkan dengan
daerah panas. Sementara, rumah di daerah hutan berbentuk rumah panggung untuk
mencegah hewan buas masuk ke dalam rumah. Selain itu, bahan bangunan rumah
bermacam-macam, tergantung bahan alam yang mudah ditemukan di daerah tersebut,
ada yang batuan, kayu, bambu.
Rumah Honai terbuat
dari kayu dengan atap terbuat dari jerami atau ilalang, sengaja dibangun sempit
atau kecil dan tidak berjendela dengan tujuan menahan hawa dingin pegunungan
papua.
Rumah nuwo sesat
berbentuk rumah panggung sebagian besar dari kayu, rumah nuwo aman dari serangan
hewan buas dan tahan dari gempa sebab ditopang oleh kayu yang kokoh. Di kolong
bangunan bisa digunakan untuk beternak, keistimewaannya bangunan dapat
dibongkar pasang karena tidak memakai paku besi melainkan pasak kayu.
Sudut
Mengukur sudut
digunakan alat ukur sudut baku yaitu busur derajat yang memiliki dua skala yang
ditandai dari 0° sampai 180° sisi kanan dan sisi kiri.
Jenis sudut, yaitu
sudut lancip (antara 0° dan 90°), sudut tumpul (antara 90° dan 180°), sudut
siku-siku (90°), sudut lurus (180°)
Tari Kipas Pakarena berasal dari Gowa,
Sulawesi Selatan. Kata pakarena sendiri berasal dari bahasa setempat yakni
karena yang berarti main. Tarian ini merupakan salah satu tradisi di kalangan
masayarakat Gowa yang masih dipertahankan sampai saat ini. Masyarakat Gowa
sendiri adalah masyarakat yang tinggal di daerah bekas kekuasaan kerajaan Gowa.
Kerajaan gowa berdiri sekitar abad ke 16 dan mencapai masa kejayaan di abad
ke-18. Sulawesi Selatan merupakan
wilayah kekuasaan kerajaan gowa sehingga masyarakat asli yang tinggal di daerah
tersebut dikenal dengan masyarakat Gowa. Hegemoni kerajaan Gowa yang berlangsung
berabad-abad turut mempengaruhi corak kebudayaan masyarakat Gowa. Tari Kipas
Pakarena merupakan salah satu bukti kekuatan tradisi masyarakat Gowa yang masih
dipercaya dan dipertahankan sebagai warisan budaya yang tak ternilai harganya.
Tari kipas pakarena mencerminkan ekspresi kelembutan, kesantunan, kesetiaan, kepatuhan dan sikap hormat perempuan Gowa terhadap laki-laki. Setiap pola gerakan dalam tarian pakarena memiliki makna tersendiri. Tarian ini diawali dan diakhiri dengan posisi duduk sebagai tanda hormat dan santun para penari. Pola gerakan memutar bermakna siklus hidup manusia yang selalu berputar. Pola gerakan memutar yang dimainkan adalah gerakan memutar searah jarum jam. Kemudian pola gerakan naik turun melambangkan kehidupan manusia yang kadang berada di bawah dan kadang di atas, pola gerakan ini mengingatkan akan pentingnya kesabaran dan keasadaran manusia dalam mengahadapi kehidupan, diiringi oleh kelompok musik yang dikenal dengan nama gondrong rinci. Kelompok ini beranggotakan 7 orang pemain musik yang semuanya adalah kaum pria. Tugasnya mengiringi para penari dengan tabuhan gandrang sebagai pengatur irama musik dan juga memainkan alat musik tiup berupa seruling, sambil melakukan gerakan, terutama gerakan kepala. Setiap hentakan dari tabuhan gandrang dari pengiring musik melambangkan watak lelaki Gowa yang keras. Keunikan lainya para penari tidak diperkenankan membuka mata terlalulebar dan mengankat kai terlalu tinggi, hal ini dikarenakan aspek kesopanan dan kesantunan sangat diutamakan dalam tarian ini. Dalam memainkan tarian ini, para penari dituntut memiliki kondisi fisik yang prima karena durasi tarian bisa mencapai dua jam dengan gerakan-gerakan yang dinamis. Masyarakat Gowa percaya bahwa Tarian Kipas Pakarena berasal dari kisah perpisahan antara penghuni negeri kahyangan (boting langi) dengan penghuni bumi (lino) di zaman dahulu. Sebelum perpisahan, penghuni boting langi mengajarkan penghuni bumi cara menjalani hidup dengan bercocok tanam, berburu dan beternak melalui gerakan-gerakan badan dan kaki. Gerakan-gerakan ini kemudian digunakan oleh penghuni lino untuk mengungkapkan rasa syukur kepada penghuni boting langi. Masyarakat Gowa biasanya mementaskan Tari Kipas Pakarena di acara- acara adat atau acara-acara hiburan. Akan tetapi, masyarakat Gowa tidak menganggap tarian ini hanya sebagai hiburan saja tapi juga sebagai wujud rasa syukur yang dilambangkan dengan setiap gerakan yang estetik dari tarian ini. Selain memiliki nilai hiburan dan nilai filosofi bagi masyarkat Gowa, tarian ini juga menjadi salah satu daya tarik pariwisata bagi provinsi Sulawesi Selatan sehingga tarian ini seringkali dipentaskan dalam rangkaian acara promosi pariwisata provinsi Sulawesi Selatan.
Tari kipas pakarena mencerminkan ekspresi kelembutan, kesantunan, kesetiaan, kepatuhan dan sikap hormat perempuan Gowa terhadap laki-laki. Setiap pola gerakan dalam tarian pakarena memiliki makna tersendiri. Tarian ini diawali dan diakhiri dengan posisi duduk sebagai tanda hormat dan santun para penari. Pola gerakan memutar bermakna siklus hidup manusia yang selalu berputar. Pola gerakan memutar yang dimainkan adalah gerakan memutar searah jarum jam. Kemudian pola gerakan naik turun melambangkan kehidupan manusia yang kadang berada di bawah dan kadang di atas, pola gerakan ini mengingatkan akan pentingnya kesabaran dan keasadaran manusia dalam mengahadapi kehidupan, diiringi oleh kelompok musik yang dikenal dengan nama gondrong rinci. Kelompok ini beranggotakan 7 orang pemain musik yang semuanya adalah kaum pria. Tugasnya mengiringi para penari dengan tabuhan gandrang sebagai pengatur irama musik dan juga memainkan alat musik tiup berupa seruling, sambil melakukan gerakan, terutama gerakan kepala. Setiap hentakan dari tabuhan gandrang dari pengiring musik melambangkan watak lelaki Gowa yang keras. Keunikan lainya para penari tidak diperkenankan membuka mata terlalulebar dan mengankat kai terlalu tinggi, hal ini dikarenakan aspek kesopanan dan kesantunan sangat diutamakan dalam tarian ini. Dalam memainkan tarian ini, para penari dituntut memiliki kondisi fisik yang prima karena durasi tarian bisa mencapai dua jam dengan gerakan-gerakan yang dinamis. Masyarakat Gowa percaya bahwa Tarian Kipas Pakarena berasal dari kisah perpisahan antara penghuni negeri kahyangan (boting langi) dengan penghuni bumi (lino) di zaman dahulu. Sebelum perpisahan, penghuni boting langi mengajarkan penghuni bumi cara menjalani hidup dengan bercocok tanam, berburu dan beternak melalui gerakan-gerakan badan dan kaki. Gerakan-gerakan ini kemudian digunakan oleh penghuni lino untuk mengungkapkan rasa syukur kepada penghuni boting langi. Masyarakat Gowa biasanya mementaskan Tari Kipas Pakarena di acara- acara adat atau acara-acara hiburan. Akan tetapi, masyarakat Gowa tidak menganggap tarian ini hanya sebagai hiburan saja tapi juga sebagai wujud rasa syukur yang dilambangkan dengan setiap gerakan yang estetik dari tarian ini. Selain memiliki nilai hiburan dan nilai filosofi bagi masyarkat Gowa, tarian ini juga menjadi salah satu daya tarik pariwisata bagi provinsi Sulawesi Selatan sehingga tarian ini seringkali dipentaskan dalam rangkaian acara promosi pariwisata provinsi Sulawesi Selatan.


maaf itu tulisan udah di rangkum belum,ibu belum sempat baca tematik nya ( ibu neneng )
BalasHapus